GAGAL DALAM MENJAGA KEBIASAAN: ANTARA MEMILIH MENYERAH ATAU BANGKIT KEMBALI

 

 





 

Setiap orang punya harapan yang besar pada kebiasaan yang ingin dibentuk. Pada awal-awal memulai kebiasaan, kita berapi-api untuk konsisten dalam satu minggu pertama. Sayang, apa yang kita pikirkan berbanding terbalik dari kenyataan. Saat pertama menyakinkan diri sendiri untuk memulai kebiasaan, terkesan sangat mudah, karena hanya fokus pada apa kebiasaan yang ingin dibentuk tanpa pernah memiliki persiapan yang mumpuni dalam mendukung kebiasaan yang ingin kita kerjakan.

kebiasaan yang kita lakukan sebagian besar hanya didukung oleh ingatan dan komitmen akan sesuatu aktivitas yang akan dikerjakan pada waktu tertentu. Kenapa hanya berdasar pada ingatan dan komitmen? Karena, kebiasaan yang ingin kita bangun sejujurlah berasal dari hasrat kita untuk menjadi seperti tokoh yang kita kagumi yang berhasil dan menikmati kebiasaan yang mereka tekuni dan telah menjadi bagian dari kehidupan mereka.

Ketika kita terinspirasi akan kebiasaan mereka dan membekas dalam pikiran, kita mulai menyakinkan diri untuk memulai kebiasaan seperti yang mereka lakoni. Kita senantiasa mengingat setiap ucapan dan tindakan mereka, sekaligus berkomitmen pada diri dengan harapan yang terlampau tinggi. Bahkan, terkadang berujung menjadi cita-cita yang utopis tanpa terlebih dulu mengenali situasi dan kondisi diri sendiri. Hal ini akan menjadi sulit untuk membentuk kebiasaan yang akan memerlukan waktu yang tak sebentar untuk menjadi sesuatu hal yang biasa bagi diri sendiri.

Hal pertama dalam memulai kebiasaan, kita harus berani untuk jujur bahwa tidak semua hari yang kita lalui senatiasa bersama kebiasaan yang ingin dibentuk. Kadang, ada satu atau dua hari dari jumlah hari yang kita targetkan akan berisi alpa. Bahkan, ada hal-hal yang berada di luar diri yang tak terduga menghalangi kita untuk rutin mengerjakan kebiasaan, walaupun kita tetap ingat waktu untuk memulai kebiasaan. Lantas, pada kondisi seperti ini kita akan memilih untuk menyudahi kebiasaan yang ingin dibentuk dan melupakan inspirasi dari tokoh yang dipuja hanya karena minder pada diri sendiri akibat berharap terlalu tinggi?

tenang, dan pejamkan mata. Bangkitkan kembali segala kenangan dari tokoh yang kita kagumi, sembari kita mengingat apa motivasi terbesar mereka yang membuat kita nekat untuk memulai kebiasaan seperti mereka? Apakah mereka tak pernah gagal? Pastinya, mereka pernah gagal. Namun, satu hal yang pasti, mereka berani bangkit dari kegagalan tersebut. Ketidakberhasilan dalam membentuk kebiasaan merupakan sesuatu hal yang manusiawi. Semua orang pernah—termasuk para tokoh berpengaruh di dunia. Kegagalan bukan berarti kita harus mundur dari kebiasaan tersebut, tapi melainkan indikasi untuk kita mengevaluasi kebiasaan yang kita lakukan selama ini. Jangan-jangan, kebiasaan yang kita kerjakan masih memiliki kelemahan yang perlu diperbaiki? Menurut Coach Adji Wahyu Aji—mentor Kelas Habit Hebat, hampir sebagian berasal kegagalan dalam membentuk kebiasaan berasal dari lima poin yang selama ini masih kurang disadari oleh kita dalam membentuk kebiasaan sebagai berikut.

1. Why factor (Alasan mengapa saya memiliki kebiasaan ini)

Selama ini, hampir sebagian besar ketika ditanya alasan mengapa ingin memiliki kebiasaan tertentu, pasti kita akan menjawab ingin menjadi seperti tokoh yang kita sukai. Tanpa benar-benar mencari tahu dan merenung alasan terbesar dan paling realistis dibalik kebiasaan tersebut dengan jujur. Bahkan, terkadang kita tak benar-benar memiliki alasan yang pasti mengapa melakukan kebiasaan yang saat ini sedang dikerjakan. Hati-hati, tanpa why factor yang jelas, kita bisa kesulitan membangkitkan motivasi dalam diri untuk terus konsisten menjaga kebiasaan.

2.  Role Model Kebiasaan

Siapa saja tokoh yang paling kita kagumi yang menginspirasi kita untuk membentuk kebiasaan tersebut? Ini penting, karena kita bisa belajar dari mereka yang sudah berhasil terlebih dahulu dalam membangun kebiasaan tertentu. Apabila perlu, kita juga bisa belajar tips dan trik mereka dalam menjaga kebiasaan. Namun, lebih dari itu mereka adalah teladan yang ingin kita jadikan sandaran untuk kebiasaan yang dibentuk.

3.  Referensi Utama

Dalam membentuk kebiasaan, kita gak bakal mungkin bisa memulai kebiasaan tanpa punya pedoman atau penunjuk yang tepat. Adanya referensi juga berguna untuk memperkaya ilmu dan pengetahuan akan seluk-beluk kebiasaan yang akan dilakukan. Misalnya saya yang ingin membentuk kebiasaan menulis ala free writing, maka saya perlu referensi buku, video, rekaman, atau artikel yang berkaitan dengan free writing agar saya bisa berhasil dalam membentuk kebiasaan tersebut. Jadi, sudahkah kita menemukan referensi yang tepat untuk memulai kebiasaan?

4. Waktu kebiasaan

Apakah waktu yang tepat akan berpengaruh pada membentuk kebiasaan? Benar. Waktu yang kita akan kita gunakan untuk memulai kebiasaan itu juga penting. Mari ingat-ingat? Kapan waktu yang paling tepat ketika kita sendiri dan bisa menikmati kebiasaan yang kita lakukan. Pastikan kita membentuk kebiasaan tidak pada waktu yang kita anggap waktu yang sedang sibuk mengurus hal lain. Pemilihan timing yang tepat akan membantuk kita lebih siap dan lebih menikmati kebiasaan yang dilakukan.

5.  Support kebiasaan

Dalam berbagai hal di dunia, pasti ada yang namanya pendukung yang akan membantu kita dalam mengerjakan sesuatu. Begitu juga dengan kebiasaan. Kita tidak mungkin bisa membentuk kebiasaan tanpa memiliki persiapan yang mendukung. Misalnya, jika kita ingin jalan kaki di pagi, maka kita juga perlu menyediakan alas kaki yang mendukung aktivitas jalan kaki, bahkan ada juga yang jalan kaki sambil mendengarkan musik agar lebih menikmati aktivitas jalan kaki. Jadi, ayo ingat-ingat apa saja barang atau hal apapun yang mendukung kebiasaan kita.

Nah dari lima poin di atas, kita bisa belajar kalau membangun kebiasaan itu memerlukan ILMU dan PERSIAPAN, agar kebiasaan yang kita kerjakan bisa berhasil. Apabila masih sering gagal bukan berarti kita tidak bisa membentuk kebiasaan tersebut. Melainkan kita perlu melihat kembali dan mencatat apa saja kendala dan tantangan yang dihadapi. Semakin kita gagal, kita semakin belajar dan memerlukan banyak ilmu yang mendukung kebiasaan. Kegagalan itu bukan hal yang buruk. Gagal itu tahapan yang pasti semua orang lalui sebelum berhasil.

Kebiasaan itu bukan perkara kalah atau menang dalam melakukan sesuatu secara terus-menerus. Melainkan apa yang kita dapatkan dan identitas yang kita capai dari kebiasaan tersebut. Identitas sebagai seorang muslimah tangguh, seorang pembelajar, pembaca kritis, penulis dll dimulai dari kebiasaan dan kesadaran dari dalam diri kita. kebiasaan yang kita kerjakan harus pula membawa kenikmatan dan kebahagiaan bagi diri sendiri. Semakin kita bahagia, semakin kita berusaha untuk terus mengabadikan kebiasaan tersebut sebagai bagian dari kehidupan kita. Jadi, sudah tahu identitas yang ingin dicapai hari ini?

 

(Kamu di hari esok, adalah apa yang kamu kerjakan hari ini. Kamu yang hari ini dibentuk oleh apa yang kamu kerjakan di hari kemarin) –Anonim

 

Salam Habit Hebat!

Dari Habit kita menjadi Hebat!

 

Komentar

Postingan Populer