Refleksi Filsafat Agama dan Kemanusiaan

 


Refleksi Filsafat Agama dan Kemanusiaan

Oleh Hilda Fpon (Pegiat JAKFI Kepulauan Sula)

 

Sejatinya menjadi manusia, berarti kita membebaskan diri dari derajat kebinatangan yang mendekam dari dalam diri. Semakin kita bertumbuh di alam realitas materi, ada hal yang harus kita kaji dan pelajari kembali terkait eksistensi diri sebagai manusia yang seperti apa dan memiliki tujuan hidup yang bagaimana?

Kita mengaku sebagai manusia, tapi enggan mengingkari watak kebinatangan yang terus membentuk diri kita dari segala keinginan yang hanya sebatas pemenuhan hasrat inderawi . Tak ada upaya untuk mempertanyakan kenapa manusia dianggap sebagai mahluk setengah binatang, bahkan kita masih cenderung mengklaim bahwa perbedaan yang paling riil antara manusia dan binatang hanya pada sebatas akal yang dimiliki oleh manusia? Lantas, apakah adanya akal pada manusia akan menjamin tingginya derajat manusia yang melebihi binatang? Ataukah akal bukan jaminan utuh atas derajat kemanusiaan seseorang?

Murtadha Muthahhari mengatakan bahwa manusia adalah sebangsa binatang. Apabila pengetahuan binatang hanya sebatas inderawi, yakni bersifat dangkal, parsial, terbatas hanya pada masa sekarang dan regional. Dalam artian, pengetahuan yang diperoleh oleh binatang merupakan pengetahuan yang sederhana yang lahir dari keinginan untuk bertahan hidup. Berbeda dengan manusia yang memiliki keistimewaan melebihi binatang, karena mahluk materi dan non-materi, yang segala ilmu pengetahuannya tak hanya diperoleh dari inderawi, melainkan juga dari akal, dan hati.

Materi sebagai wadah manusia mengaktulisasikan potensinya di realitas—termasuk dalam pencarian ilmu pengetahuan yang harus menuntunnya pada realitas dibalik materi tersebut. Maka, ilmu pengetahuan yang diperoleh manusia, bukan hanya sebatas intelektual semata, melainkan juga harus menuntun pada arah spiritual yang melahirkan keyakinan religius.

Jika pengetahuan hanya pada sisi materinya saja, maka pengetahuan yang diperoleh manusia masih dalam taraf ilmu pengetahuan yang masih dihegemoni oleh kekuatan hasrat dan nafsu untuk menguasai segala sesuatu. Sebab, manusia adalah mahluk yang tak pernah puas pada apa yang dimiliki dirinya, apabila telah dilandasi oleh kehendak yang bersumber dari hasrat yang meledak-ledak, bukan berangkat dari titik kesadaran yang utuh, hal ini karena masih berkaitan erat dengan sisi kebinatangan yang ada dalam diri manusia.

Maka, manusia bukan hanya memerlukan ilmu pengetahuan, melainkan juga membutuhkan agama yang menuntun manusia dari sisi kebinatangan berevolusi menuju sisi manusiawi. Dua hal tersebut saling bertautan erat satu sama lain, dan tak bisa dipisahkan. Sebab, ilmu pengetahuan yang terpisah dari agama, maka hanya akan melahirkan manusia-manusia mekanik yang bebas nilai tanpa memiliki pedoman yang utuh ke arah mana sejatinya ilmu pengetahuan tersebut, apakah akan menuntun manusia pada fitrahnya atau menjauh dari fitrah kemanusiaan itu sendiri?

Melalui agama, manusia dituntun untuk bergerak secara dinamis dan terus-menerus untuk mengubah sisi kebinatangan dengan memerdekakan diri secara lahir dan batin dari segala belenggu ego dan hasrat yang melekat erat dalam sepanjang hidup manusia. Sebab, ilmu pengetahuan saja tak cukup untuk mendidik manusia yang memanusiakan sesama, tanpa terlebih dulu memanusiakan diri sendiri.

Bila ilmu pengetahuan sebagai kekuatan, maka agama harus menjadi basis dari kekuatan itu sendiri, agar kekuatan tersebut tak disalahgunakan. Pengetahuan yang ideal, ketika pengetahuan tersebut melahirkan manusia yang arif bijaksana. Namun, manusia memerlukan ilmu pengetahuan dan agama agar hati dan pikiran tercerahkan dan terjaga keseimbangannya. Sebab, sebaik-baiknya pengetahuan ialah yang berhasil merasuki jiwa setiap manusia, dan itu tak terlepas dari agama.

Jika ada sebagian manusia yang mengklaim bahwa ilmu pengetahuan saja cukup bagi manusia, karena fenomena beragama kita pada masa kini, maka jangan terlebih dulu sibuk mengklaim. Sebab, tiada agama yang ingin menistakan segala sesuatu yang berkontradiksi dengan pesan agama tersebut. Toh, pengetahuan saja tak lantas menjadikan manusia memiliki derajat yang tinggi, mari kita lihat, berapa banyak kerusakan di alam yang juga bermuasal dari pengetahuan? Maka, marilah tuntun pengetahuan dibawah cahaya agama, agar menjadi kekuatan yang membebaskan manusia itu sendiri.

 

Wallahul alam bishawab

 

Sanana, 06/05/2022


*Kajian Jakfi Kepulauan Sula dengan tema Filsafat Agama dan Kemanusiaan oleh Kak Mala Buamona (Koor. Jakfi Ternate), bertempat di benteng Sanana.

Komentar

Postingan Populer