Cerpen: Balada Gagal Move On

 

https://www.pexels.com/id-id/foto/wanita-berdiri-di-samping-kursi-1217236/

Baru-baru ini aku merindukan cinta pertamaku. Lebih tepat merindukan sepenggal kenangan masa sepuluh dekade silam yang terpampang apik di kepala seumpama lukisan Monalisa yang dikelilingi catatan tuntutan hidup tiada muara.

Aku heran mengapa hingga detik ini, masih saja dibayangi cinta pertama yang sesekali mampir di siang hari, sore menjelang malam, saat hendak tidur, bahkan saat makan pun terbayang. Aku akhirnya menerima kenyataan betapa lirik lagu Duo Maia sesuai dengan apa yang kualami sekarang.

 

"Aku mau makan, ku ingat kamu

Aku mau tidur, juga ku ingat kamu

Aku mau pergi, ku ingat kamu

Oh cinta, mengapa semua serba kamu?

Aku sedang bingung, ku ingat kamu

Aku sedang sedih, juga ku ingat kamu

Aku sedang bosan, ku ingat kamu

Oh cinta, inikah bila ku jatuh, ku jatuh cinta?"

 

Namun sayangnya, lagu Ingat Kamu lebih relevan pada seseorang yang sedang jatuh cinta. Bukan seseorang sepertiku yang sudah kadaluarsa merasakan jatuh cinta padanya, bahkan kalau dikategorikan kasus dalam ranah hukum. Kasus jatuh cinta yang aku alami sudah melewati dalawuarsa alias sudah tidak bisa diperiksa sebagai perkara. Duh gusti! Hamba-Mu ternyata bucin kelas borjuis. Sibuk mendamba dia, hingga lupa menghamba pada-Mu.

Sudah pikir-pikir berulang-ulang kali, bahkan menjelajah ke masa lalu hingga jemu, tapi aku tak juga menemukan jawaban dari kegagalan berimigrasi dari segala hal tentangnya. Apakah berimigrasi dari bayangannya juga butuh password darinya! Betapa menyedihkan sekali nasib daku! Mirip sebelas duabelas sama peribahasa si pungguk yang merindukan rembulan.

Lihat! Berhari-hari aku melalang buana di alam pikiran untuk bisa berdamai dengan perasaan suci ini. Belajar untuk menerima dan masih harus terus menemukan jawaban atas segala bayangannya yang tanpa tahu malu kongkow plus wara-wiri di beranda ingatan.

“Cit! Ngapain bengong? Ikan bakarmu dibawa lari kucing!!” suara seseorang memecah lamunanku dari arah belakang. Tanpa sadar, ternyata seekor kucing abu-abu telah melarikan diri dari jeratan pandanganku. Dalam sekejap jatah menu siang malamku telah raib dicuri pekakor alias perebut ikan orang.”

“Ikannya berhasil diselamatkan?” tanya asal suara tadi. Dia Tata, seorang kawan yang memiliki ciri khas bawel untuk urusan untuk perdramaan korea dan kawan-kawan Asia, tapi yang paling kalem kalo untuk urusan menjaga lisan antara sesama umat pejuang toga di jazirah kos-kosan.

“Kagak!”

“Kok bisa sih, kamu dari tadi ngelamun apa sampe bisa merhatiin itu kucing udah stand by di dekat meja makan?” tanya Tata dengan tatapan menyelidik.

“Mikiran perasaan jatuh cinta yang udah kadaluarsa”, tebaknya lagi. Tata bersedekap sembari membuang muka ke arah lain. Seperti seseorang yang sedang ingin menagih utang. “Hahaha, masa sih, mana ada jatuh cinta mengenal kadaluarsa? Ini bukan perkara hukum kali. Terus ya, situ masih susah move on dari si sono? Namanya Juminten apa Jubair sih?” Lagi-lagi Tata tak bisa menahan tawa yang terpampang  dari bibirnya yang ditekan rapat-rapat.

“Yeh! Tolong itu nama dari planet Mars ya? Kalo namanya kek gitu udah dari dulu move on, mbak. Astaga! Namanya tuh Dimas kali. Mana ada dari Dimas bertansformasi jadi nama Juminten apalagi Jubair”, belaku pada si dia yang masih bertahta dalam kepala.

“Kan aku lupa, please dimaklumi. Tapi kamu kok galon mulu. Bisa ceritain kronologis kejadiannya?” Tuntut Tata dengan wajah yang ditekuk pertanda merajuk ingin tahu.

“Ya kayak aku ceritain kek kamu sebelumnya. Aku juga bingung kok bisa sih udah lebih dari sepuluh tahun tapi masih setia berharap sama dia, padahal gak pernah ketemu dari dulu sampai sekarang’”, jawabku ragu-ragu.

“Gak papa, kata Tantaku gini, nikmati aja dulu, terkadang gak semua hal bisa dilepaskan dalam sekejap mata. Ada yang bahkan perlu proses bertahun-tahun untuk bisa melepaskan diri dari jeratan perasaan yang menjebak. Asal kamu udah berusahakan? Toh jika nanti tak bersatu di masa sekarang, setidaknya pernah bersatu di masa lalu. Eaaa” Tawa Tata menggelegar  memecah Dapur kos-kosan Yasmin Bu Lina yang keterlaluan sepi.

“Tumben, ngomong dewasa banget plus panjang kali lebar. Biasa juga yang apa-apa ngomong udah sabar aja, ikhlasin aja. Tumben, kamu kasian ya sama nasib tragis percintaan aku yang udah hampir mirip drama Korea lintas masa lalu sama masa depan.” Tuduhku sembari memasang wajah sok galak yang cocok dengan wajah jutek alamiku.

“Astaga! Cit, positif thinking kali. Jangan karena lelaki kamu buang-buang waktu mikiran yang aneh-aneh. Buktinya, sibuk nngelamun sampe lupa ikan udah dimaling kucing.”

Lagi-lagi Tata memulai nasihatnya, “Gini, izinkan aku memberi nasehat ya, sebagai seorang sahabat. Kamu boleh meratapi kisah cintamu yang hampir senasib dengan drama Korea. Namun, jangan lupa, ada seseorang yang harus kamu jaga dan rawat untuk bisa menjadi sosok terbaik bagi dirimu sendiri yaitu kamu.”

“Ambil napas sejenak dulu, Ta,” potongku.

“Kenapa? Karena hidupmu duniamu berada dalam tanganmu bukan pada diri orang lain. Kalo kalian ditakdirkan bersama, pasti ketemu. Kalo gak, gak papa. Karena itu tandanya dia adalah kiriman Tuhan untukmu sebagai tamu untuk memberimu pelajaran kalau dalam hidup ini, bahwa gak semua orang datang untuk menetap. Semua orang berubah seiring waktu.” Tandas Tata tersenyum padaku.

Ternyata, gagal move on banyak hikmahnya, setidaknya aku belajar untuk tidak menghakimi para pejuang galon yang masih bersusah payah untuk berdamai dengan kisah cinta yang kandas di waktu yang tidak tepat dengan orang yang tidak tepat.


Komentar

  1. Seru banget, ya, becanda sama sahabat begini. Kalau galau, emang bercanda dengan sahabat bisa menenangkan. Yah, meski kadang malah bikin makin terasa sakit, sih :-)

    Sahabat baik harus dipertahankan. Mereka bisa bikin kita kuat melalui banyak hal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar, Bang. Tidak semua sahabat bisa berani mengutarakan pendapatnya secara jujur apa adanya.

      Hapus
  2. Apakah kucing yang mencuri ikanmu lebih menyakitkan dari kenangan masa lalu yang masih bertahta indah dalam benak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kata Si Citra, ikan yang dicuri dan kenangan yang belum sama sekali padam dari lubuk hati, masing-masing memberi rasa kesakitan dengan kadar yang berbeda-beda.

      Hapus
  3. Seberat apapun rasa cinta jika Allah tidak menakdirkan, tidak akan bertemu. Keyakinan bahwa Allah lebih tahu yang terbaik bagi diri kita, penting untuk ditanamkan. Agar kita sadar bahwa tidak semua orang datang untuk menetap.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar, kak. kadang melalui orang-orang yang hanya mampir sesaat, Tuhan mengajarkan pada kita bahwa segala yang kita miliki hanyalah bersifat 'sementara' memberi pelajaran sekaligus pengalaman hidup.

      Hapus
  4. Cinta pertama memang sudah dilupakan , giliran udh move on doi malah nyapa lagi ... udah deh, gagal lagi move on nya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar, Kak. Lebih banyak maju mundur cantik, tapi galon mulu. hehehe

      Hapus
  5. Move on , adalah kata-kata anak remaja zaman sekarang, mereka yang patah hati dan berusaha untuk melupakan masa lalu nya .

    BalasHapus
    Balasan
    1. anak remaja zaman sekarang tanpa istilah move on, bagaikan makan bakso tanpa kuah. hehehe

      Hapus
  6. #ridhonabilah

    Menarik tulisannya.. jangan sampai ini admin yang bikin tulisan gagal move on hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, tulisan ini bersumber dari inspirasi lagu Duo Maia. Tulisan ini dibuat untuk teman baik saya.

      Hapus
  7. Keren banget gaya ceritanya. Diksinya kayak cerpen yang di koran-koran.
    Padahal temanya mainstream banget, tapi penyampaiannya bagus.

    BalasHapus
  8. Bagus gaya penulisan dan alur ceritanya kak. Cinta pertama itu emang sulit banget buat dilupain, gagal move on juga sulit. Eh udah gagal move on sama cinta pertama lagi makin sulit deh urusannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makin runyam urusannya, kalo di usia dewasa awal yang masih labil dalam melihat hidup.

      Hapus
  9. Baca ini jadi keingat cinta pertama yang ku kira bakal cinta terakhir mba, hikss. Cinta pertama SMP ketemu Kuliah, pas mau nikah malah ga jodoh. Ceritanya membuatku mengingat masa lalu, hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maaf ya, mbak. malah keingat masa lalu. Semoga tetap lebih berbahagia, mbak. walau sudah saling berbeda cerita.

      Hapus
  10. Sumpah pas lirik lagu langsung uato muter dikepala, kayaknya sebaya nih... Alhamdulillah cinta pertamaku adalah suamiku, dan semoga menjadi terakhir pula, aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Langgeng hingga jannah, Mbak. Lagunya Duo Maia yang paling ngehits, sekaligus jadi senjata teman-teman buat cie-cieen teman-teman sekelas.

      Hapus
  11. Memang cinta itu penuh dengan misteri, tapi jika misal memang takdirnya tidak mengizinkan untuk bersatu, ya sudah tidak akan bersatu, akan tetapi memang butuh waktu buat move on, aku salah satu korban galonnya 😣

    BalasHapus
    Balasan
    1. Move on mungkin butuh waktu lama, tapiperlahan-lahan pasti bisa.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan Populer