Perempuan Yang Mengeja Namanya

 

Gambar dari Pexels

Kata apa yang sedang kau eja sekarang?

Aku masih teringat, kala kau mengeja satu per satu huruf demi huruf untuk menjadi satu kalimat utuh. Raut wajahmu menenang. Telunjuk tanganmu masih menempel pada lembaran buku yang kau beli di warung Cik Yana. Berharap dari buku itu kau merekam seluruh kata yang aku ajarkan padamu.

***

Dunia nyata tak seindah dunia ilusi yang kita ciptakan di dalam kepala. Begitu kira-kira yang saya alami. Memilih pulang kampung setelah menyelesaikan studi adalah pilihan yang paling tepat dan sudah seharusnya uuntk anak rantau untuk kembali ke negerinya dan mengabdikan hidupnya untuk pembangunan dan menciptakan generasi baru yang kompeten.

Beberapa minggu setelah aku pulang kampung, aku memilih untuk sejenak mampir ke warung Cik Yana untuk membeli voucher wifi untuk mencari informasi lowongan pekerjaan di daerah saya. Saya menatap perempuan paruh baya dengan penampilan yang sedang membeli sesuatu di kios Cik Yana.

“Cik, berapa harga gula ini?” tunjuknya pada gula yang telah dibungkus tas keresek.

“harganya sekian, Ma Ati.”

Perempuan paruh baya itu segera menjulurkan uang tanpa ragu. Membiarkan Cik Yana menghitung uang. Tanpa sadar, Ia berbalik menatapku, seutas senyum terpahat pada wajahnya yang kian renta di makan waktu.

“Nak, bisakah kamu membacakan tulisan di bagian bawah acara di channel 08? Saya ingin tahu hal penting apa itu?” katanya bersungguh-sungguh. Aku langsung saja membahas berita tersebut berkaitan kasus korupsi dan dipecatnya para pegawai instansi yang menyalahi aturan.

Ia hanya mangut-mangut mendengarkan apa yang sedang saya sampaikan tanpa mengalihkan mata dari layar tv yang menggantung tepat di pojok ruang makan jualan dan merangkap sebagai tempat duduk para pemuja wifi menyandarkan anggota tubuh yang rebah dan menengang selama berselancar di dunia internet.

Sepergi ibu tersebut, Cik berkata kalau beliau tak bisa membaca. Bahkan, ia tak pernah tahu bagaimana mengeja namanya sendiri.

***

Selepas ashar, saya bergegas menuju rumah Ma Ati—perempuan paruh baya yang saya temui tempo hari di warung Cik Yana. Rumahnya terletak di seberang jalan Gedung sekolah SMP kami, tepatnya berada di tepian kali Waibalanda. yang tidak jauh dari rumah. di sekitar rumahnya, terdapat dua pohon pala yang berusia hampir setengah abad, dan setiap tahun selalu berbuah. Saya mengamati lekat-lekat satu per satu pohon tersebut yang sama sekali tak mengalami perubahan dari saya masih bersekolah di kampung hingga kembali pulang dari tanah rantau.

Saya memilih berdiam diri sebelum mengetuk pintu rumah Ma Ati. Ada banyak hal yang berkelebat di kepala tentangnya yang ingin saya ketahui. Ya, walaupun apa yang saya lakukan bisa dibilang sebagai hal yang nekat. Baik, saya bisa melakukan ini, semangat!, batin saya.

Assalamualaikum...” saya menggetuk pintu rumah yang terbuka, sembari pandangan saya menyapu tiap sudut ruangan. Hanya ada beberapa kursi plastik yang menghiasi ruangan berdinding papan kayu. Tak berselang lama, saya mendengar balasan salam disertai derap langkah kaki dari arah menuju belakang menuju ruangan saya berada.

“waalaikumsalam, duduk, Nak. Ada perlu sama Ma Ati? Bentar Ma Ati buatin teh ya,” jawab Ma Ati bergegas kembali ke belakang tanpa sempat saya menolak permintaannya untuk tidak perlu dibuatkan teh. Saya seperti sedang merepotkannya.

“Maaf ya, Nak, cuman segelas teh. Diminum dulu.”

“Iya, maaf sudah merepotkan, Ma Ati. Kenalin nama saya Lita, cucunya Nenek Haji Na yang rumahnya di perbatasan kampung. Baru-baru kita bertemu, saat Mak meminta tolong pada saya untuk membaca tulisan di tayangan tv.”

“Oalah, ternyata kamu cucu Haji Na, ya. Mak udah ingat. Ada apa ya kemari?” tanya Ma Ati tersenyum.

“Begini, Mak. Kalau gak keberatan saya ingin tahu kenapa Mak belum bisa membaca? Karena, setahu saya di kampung ini, sudah hampir sebagian besar orang-orang sudah bisa membaca, walaupun masih dalam tahap mengeja huruf. Maaf ya, Mak, kalau pertanyaan ini menganggu dan menyinggung hati”. Saya seketika membetulkan posisi duduk di atas kursi.

Entah kenapa, pertanyaan itu membuat air wajah mak Ati tiba-tiba berubah drastis. Wajahnya yang sawo matang yang tadi diwarnai senyum polos dengan sorot mata sayu, kini tiba-tiba berubah sendu. Suasana seketika menjadi hening. Hanya suara kicauan burung yang terdengar diselingi teriakan klakson kendaraan yang berlalu-lalang di seberang jalan.

“Mak boleh cerita, Lita?” tatap Ma Ati. Aku menangguk mengizinkan Mak Ati yang kini memecah kesunyian yang menyelimuti kami berdua dengan berbagi cerita.

“Mak ingin sekali bisa membaca sejak lama. Mak anak pertama dari sembilan bersaudara. Sejak kecil, maka mau gak mau harus membantu orang tua untuk mencari uang dan merawat adik-adik. Mak enggak tahu apa pantas cerita ini untuk kamu dengar. Mak berharap kamu gak menghakimi Mak, karena masa lalu. Mak dulu sangat mencintai Abah, jaman dulu sekolah itu bukan hal yang penting. Bekerja di kebun lebih penting bagi kami. walaupun kehidupan sehari kami pas-pasan. Tetapi, bersama Abah, Mak lebih kuat buat melewati hari-hari berat Mak yang dulu dijalani.” j

 

Bersambung[]

 

 

Komentar

Postingan Populer