Raut Wajah Yang Tercuri


https://www.pexels.com/photo/woman-in-green-long-sleeved-shirt-919607/

 

    Aku tak lagi asing dengan puluhan wajah yang hilir-mudik di hadapanku. Beragam wajah dengan beragam ekspresi, yang terkadang bisa aku tafsirkan maupun tidak. Itulah keseharianku sebagai buruh yang bekerja di toko Serbalengkap sejak bebeberapa tahun silam. Terkadang ada pembeli yang ramah berbagi senyuman tanpa jeda. Kadang pula ada pembeli yang hawa masamnya menebar ketakutan bagiku. Namun, itu bukan hal yang kutakuti sepanjang hari di ruangan yang telah disesaki dengan beragam produk jualan dari beragam merek.

Aku mencintai pekerjaan ini melebihi apapun. Menyusun beragam produk di etalase kaca, sembari menghirup bermacam aroma parfum maupun aneka skincare yang berada di etalase kaca yang berada di belakang maupun di depan diriku. Memotret satu per satu kesibukan orang-orang dari usia kanak hingga dewasa yang saling berjibaku memilih aneka produk dengan isi kepala yang direcoki kebutuhan dan keinginan.

Di sinilah kulukis wajah lain. Seberapa banyak yang kutemui, seulas senyum akan terus terbit di wajahku sepanjang hari. Bahkan di tengah situasi cuaca yang seringkali menganggu suasana hati para pembeli saat memasuki toko ini. Aku telah melakoni ini hingga tak lagi menyadari mana senyuman asliku? Senyumanku telah lama dicuri dari raut wajahku. Tak lagi ada senyum yang berasal dari kesungguhan diri.

***

    Bayangan itu muncul lagi. Ia tak lagi berupa wajah kesepian yang menemani kegelapan hariku, melainkan muncul dengan wajah lain. Wajah yang tak lagi asing bagi sebangsa manusia sepertiku. Sebuah wajah yang membangkitkan pertumpahan darah di antara manusia. Ia berwajah selembar kertas bernama uang. Ia hadir begitu saja.

Ia membangunkan aku dari kenyamanan kursi sofa busuk yang telah menjadi rumah bagi para kutu-kutu telantar yang begitu saja merangsek masuk di dalamnya sekian tahun silam. Ia menyapaku tanpa ragu.

“Kau butuh aku. Kau ingin menjadi seperti mereka? Raihlah aku. Gapailah aku dengan segala cara. Kau ingin membungkam para mulut yang selama ini menyemburkan hinaan padamu, kan? Tanpaku, hari-harimu lebih gersang dari kesepian yang bertahun-tahun mengawinimu. Apakah kau ingin terus mendekam di antara etalase kaca?”

Ia mendekat. Wajah itu terbang melayang di atas kepalaku tanpa ampun. Membisikkan segala sampah di telinga yang sudah mati digigit suara-suara harapan hidup. “Pergilah, aku sudah muak dengan wajahmu yang mengerikan. Aku tak ingin dirimu, aku hanya ingin ditemani kesepian. Sudah terlalu banyak bentuk wajah yang mengerumuni hari-hariku,” mataku sontak terbuka. Ternyata hanya sebuah mimpi tak berfaedah yang seringkali bertamu tanpa mengenal waktu.

 

***

    Etalase kaca tak lagi mencuri perhatianku. Melainkan orang-orang yang berseragam necis yang berada di halte bis. Orang-orang yang dulu membuatku berpikir, kalau pekerjaan yang ideal adalah berpenampilan menarik dengan seragam formal. Sayangnya, itu hanyalah angan masa lalu. Kini, lihatlah diriku, berpakaian apa adanya. Aku hanya nemakai kaos oblong hitam dengan gambar boneka teddy bear dengan celana kulot hitam yang dibeli di pasar murah meriah yang dicocokan dengan jilbab segitiga warna pastel. Plus, sepasang sandal jepit yang biasa-biasa. Toh, ini sandal ternyaman untuk dipakai selama berdiri berjam-jam.

Di kepala sekarang sedang bertamu wajah yang mengerikan itu. Berlari di antara beban pikiran yang bersarang dalam ingatanku. Setumpuk produk baru tergeletak begitu saja di depanku. Lalu-lalang manusia yang berjalan hilir-mudik di depanku tak lagi menarik. Obrolan gaji yang sesekali dilempar sesama penjaga toko terus berputar-putar dari hari ke hari hingga bulan juga tak kunjung tahu ke mana akan bermuara. Entah akan berakhir di selembar kertas untuk ditantadangani pimpinan, atau berakhir menjadi omong kosong belaka yang berakhir menjadi khayalan yang telah menghibur orang-orang sepertiku yang mendekam dibalik dinding etalase kaca.

 

“Lies,” seseorang menepuk pelan bahuku dari belakang. Ternyata Ika, perempuan mungil yang usianya tiga atau empat tahun diatasku. Ia menarik setumpuk produk dan mulai menyusunnya di etalase kaca satu per satu produk. Sebentar lagi, ia pasti akan menyemburkan rentetan keluh-kesah mengenai isu-isu nasional. Bahkan, aku hampir lupa tahun ini, Ika sedang membuat sebuah resolusi mengenai Indonesia 2024 dengan membuat sebuah jurnal mingguan dengan obrolan yang berat. Semisalnya, sebuah gagasan transformasi digital yang didengung-dengungkan oleh suatu lembaga kementerian. Bagi Ika, mengikuti perkembangan digital adalah hal paling antusias yang pernah alami—terlepas dari pekerjaan menjaga toko yang menyita daya fokus seharian.

“Kita hidup di negeri sendiri, tapi kok berasa jadi anak tiri ya? Gimana bisa sejahtera, kalau setiap hari yang kita lihat di televisi hanya berita penanggapan tersangka korupsi bin rakus. Benarkan, Lies?” aku hanya menganggukkan kepala tanda setuju. Walaupun keluhannya telah menjadi lagu lama yang sudah diputar berulangkali setiap berada di sekitarku. “Sudah punya jabatan, uang banyak tapi masih merampok uang rakyat. Kita yang rakyat kerja banting tulang hanya demi urusan mengenyangkan perut?” Ia mengambil produk deodorant dan dimasukkan di dalam etalase.

“Uang bukan jaminan utuh orang-orang akan merasa puas dengan apa yang mereka punya.” Ika mengacungkan jempol ke arahku. “Mantul, makanya aku enggak terlalu iri dengan pekerjaan orang lain. Karena bagiku, menjadi penjaga toko juga pekerjaan yang mulia. Urusan gaji yang enggak terlalu banyak bukan masalah. Toh, selama ini kebutuhan keluargaku tercukupi walaupun tak seberapa.” aku tersenyum padanya.

 “Benar, kata Emakku, uang itu amanah. Apapun pekerjaannya, rejeki berupa uang itu harus bersumber dari uang yang halal. Banyak atau tidaknya, harus tetap disyukuri. Itu menjadi langkah ikhtiar untuk mengingatkan diri untuk bisa mengontrol hawa nafsu diri. Kan bekerja juga bagian dari ibadah. Sungguh merugi kalau pekerjaan malah menjadi hijab yang menjauhkan diri dari mensyukuri nikmatnya,” jelasku panjang lebar.

Ika lagi mengacungkan jempol—kebiasaannya, “Nah, iya. Mau apapun disyukuri. Mau pekerjaan dengan gaji kecil maupun besar, kita tetap semuanya sama.” Sebelah alisku mengernyit. “Sama-sama buruh yang diupah oleh oleh pimpinan,” sela Ika sambil tertawa.

Betul juga apa yang diucapkan Ika. Kita semua buruh, bahkan orang-orang yang dulu membuatku iri setengah mati juga sama sepertiku, seorang buruh yang diupah oleh pimpinan. Bedanya, mereka berseragam formal, kita berpenampilan biasa-biasa saja, tanpa ada aturan berpakaian selama yang dipakai sopan.

Semoga malam ini, aku tak lagi bermimpi buruk mengenai uang, batinku.

Aku ingin menjalani hari-hariku sebagai buruh yang bebas merdeka dari jeratan wajah selembar uang. Aku hanya ingin melihat wajah asliku. Sebelum mimpi buruk tersebut hadir pada malam-malam sebelumnya. Apakah aku harus hidup seperti orang lain, hanya untuk melihat diriku yang sesungguhnya? Aku mencintai pekerjaan ini. Mencintai aroma sabun maupun body lotion yang tak sengaja tertangkap oleh hidungku. Persetan dengan punya banyak uang, tapi membunuh jiwaku.[]


Komentar

Postingan Populer