Banyak Jalan Menuju Roma
![]() |
| pexels |
Kebenaran
tak ada yang bersifat mutlak, karena satu-satunya kebenaran yang mutlak
hanyalah milik Tuhan. Setiap orang bisa mengklaim kebenaran versi mereka yang
berlainan satu kepala dengan kepala yang lain. Apakah ini akan menjadi masalah
dalam berrelasi antar sesama? Bagi saya, ini bukan masalah tapi pada saat
tertentu akan menjadi masalah. Ketika ada orang berusaha memaksakan klaim
kebenarannya pada orang lain, serta berharap apa yang diklaimnya wajib
dipercayai dan diamini oleh orang lain.
Sayangnya,
fenomena ini masih tumbuh menjamur di sekitar kita. Bahkan, bisa jadi kalau
kita tanpa pernah menyadari juga menjadi bagian dari orang-orang yang senang
beranggapan apa yang dipercayai sebagai kebenaran yang tak boleh ditolak oleh
orang lain. Barangkali hal inilah yang harus kita jadikan sebuah catatan
penting dalam memaknai kebenaran.
Kebenaran
yang tak harus berkaitan dengan hal-hal yang melangit, bahkan yang urusan
membumipun kita masih pontang-panting dalam mengemban erat keyakinan kita pada
apapun, yang tentu akan saling berseberangan antar sesama. Misalnya, saya yang
barangkali tidak menyukai makanan manis, bukan lantas mengajak orang lain untuk
juga ikutan membenci makanan manis, bahkan menjelek-jelekkan makanan manis tanpa
ampun. Beranggapan menyentuh makanan manis sudah sama dengan membunuh diri
sendiri.
Lantas,
ketika seseorang menyentuh makanan manis, apakah saya juga akan memusuhi
mereka? Bisa jadi, bisa tidak. Tergantung penafsiran kita sendiri tentang
makanan manis itu sendiri. Namun sepertinya, bagi sebagian orang, bisa jadi
akan membenci makanan manis sekaligus orang mengonsumsinya. Karena beranggapan,
dua hal tersebut saling berkelindan satu sama lain. Begitu pula dalam realitas
keseharian.
Kadangkala
kita juga seringkali menuding orang-orang yang tidak sejalan dengan keyakinan, maupun
pemikiran yang diyakini sebagai seseorang yang harus diajarkan kembali tentang
keyakinan dan pemikiran yang kita anggap sebagai hal yang benar. Tak bisa
ditawar-menawar dan harus dipatuhi tanpa dikritisi. Inilah realitas kita hari
ini, beragam fenomena yang merembes pada hal-hal multiaspek yang hanya disikapi
hanya dengan satu sudut mata kacamata, yang belum tentu mampu menangkap
rentetan fakta yang terjadi dibalik realitas yang seringkali bias.
Melihat
segala peristiwa dari satu sudut pandang saja tak cukup untuk mengurai segala
ketidaktahuan kita akan sesuatu. Lantas, apakah memaksakan kebenaran yang kita
yakini pada orang lain bisa menjadi jawaban atas rentetan segala keraguan maupun
tanda tanya bagi sebagian orang? Bagi saya, pemaksaan kebenaran yang berdasar
kehendak pribadi adalah hal-hal yang melanggar kebebasan dalam bernalar, bahkan
kemanusiaan itu sendiri. Setiap berhak atas kebebasan pikiran yang tak boleh
dikungkung oleh label kebenaran semata.
Karena
kebenaran versi A dan versi belum tentu sama, sekalipun bermuara pada satu
tujuan yang sama. Seumpama banyak jalan menuju Roma, dalam kehidupan manusia,
perbedaan pemikiran adalah hal yang manusiawi. Dalam pandangan agama, perbedaan
adalah rahmat yang menegaskan kalau perbedaan adalah suatu keniscayaan yang tak
boleh ganggu-gugat oleh apapun.
Perbedaan
bukan sebagai sumber pertikaian maupun perpecahan, melainkan untuk saling
melengkapi satu sama lain. Apa jadinya kalau setiap pemikiran semua seragam?
Adakah ada hal-hal baru yang akan kita pelajari? Tentu saja tidak semua hal
bisa kita pelajari, bahkan bisa jadi pemikiran yang seragam malah melahirkan
perpecahan baru yang berkaitan dengan mental manusia itu sendiri.
Bagi
saya, perbedaan dalam menyikapi kebenaran yang dipengaruhi oleh pandangan
dunia-nya masing-masing orang akan membuat kita saling belajar satu sama lain.
Seumpama kita menapaki perjalanan menuju Roma, akan ada banyak hal yang
tertangkap oleh diri kita, sayangnya kita hanya tahu sebatas jalan yang
dilewati tersebut.
Kita
tak pernah tahu bagaimana jalan lainnya yang menuju Roma, maka dengan membuka
diri untuk mempelajari jalanan yang berbeda dilewati oleh orang lain
mengajarkan kita, kalau setiap jalan yang kita lalui tak ada yang sama. Bahkan,
jika sama, akan ada banyak hal yang mewarnai kita dalam menyusuri jalanan itu.
Jadi,
ada banyak jalan menuju kebenaran seumpama banyak jalan menuju Roma, akan
banyak cerita yang pelajaran dan pengalaman yang kita lalui dan yakini yang
akan saling berlainan. Maka, sudahkah kita terbuka dengan beragam sudut pandang
baru dari orang-orang yang kita temui sepanjang hari? Semoga kita beriktiar
untuk tidak menjadi seperti katak dalam tempurung dalam menyikapi perbedaan di
realitas.[]

.jpeg)

Komentar
Posting Komentar