Menyelami Makna Buku
![]() |
| Gambar dari Pexels |
Jika
membaca buku dianggap sebagai upaya mencerdaskan manusia, maka kita tak bisa
pungkiri membaca buku memiliki peran sentral dalam mendidik tiap individu. Akan
tetapi, membaca buku saja tak cukup untuk mencerdaskan manusia sesuai dengan
cita-cita leluhur yang berpangkal pada ‘memanusiakan manusia.’ Karena, membaca
buku tak boleh hanya memperkaya sisi intelektual bagi pembaca, melainkan pada
sisi yang lain, juga harus turut mengembangkan kecenderungan emosional dan
spiritual. Tiga hal ini yang harus dimiliki dan senantiasa ditumbuhkan dalam
diri manusia, sejalan dengan proses belajar sepanjang hayatnya.
Salah
seorang adik tingkat pernah bertanya mengenai bagaimana cara menghafalkan isi
buku yang sedang dibaca. Berkaca dari pengalaman diri sendiri, saya memilih
menjawab untuk tidak menghafalkan isi buku tersebut, karena yang terlebih
penting ialah apa yang dipahami dari isi buku, daripada dihafalkan. Kenapa
lebih baik untuk dipahami ketimbang dihafal? Sebab, apa yang kita hafal, belum
tentu akan dipahami. Sebaliknya, jika telah dipahami akan mempermudah kita
menyerap informasi lainnya.
Membaca
buku memang menitikberatkan pada pemahaman mengenai apa yang dibaca, dan
mengkontekskan dalam keseharian kita. itu adalah cara termudah untuk memudahkan
kita untuk memahami bacaan. Walau begitu membaca buku bukan sekedar pada apa
yang dibaca, tetapi apa yang dibentuk melalui proses membaca itu sendiri. Saya
menyadari bahwa orang yang telah menjadikan aktivitas membaca buku sebagai
bagian dari diri mereka, maka mereka akan meluangkan waktu dan mengatur
manajemen waktu mereka untuk membaca.
Mereka
tak akan menjauhkan diri dari proses membaca, karena semakin banyak orang
membaca buku, semakin mereka sadar bahwa mereka takt ahu apapun, sebagaiman
ungkapan filsuf Yunani Kuno Socrates, “satu-satunya hal yang kuketahui
adalah aku tak tahu apa-apa.” Maka, melahap buku tak lagi berkaitan dengan
mencerdaskan diri tetapi juga ikhtiar upaya mendidik diri.
Kenapa
saya mengatakan membaca sebagai upaya mendidik diri? karena tidak semua orang
terbiasa dan akrab dengan buku. Apalagi jika lingkungan kurang mendukung dengan
akses koleksi buku bacaan yang terbatas juga akan berpengaruh pada minat maupun
motivasi seseorang dalam membaca. Apalagi jika belum adanya kesadaran mengenai
pentingnya membaca.
Maka
alangkah beruntung bagi orang-orang yang memiliki dan menggerakkan diri mereka
untuk membaca. Dan membaca buku juga berkaitan dengan rasa ingin tahu. Tanpa
adanya rasa ingin tahu, maka agak susah untuk untuk memulai kebiasaan membaca.
Dalam kelas membac buku yang saya ikuti, kita diberikan pertanyaan tiga alasan
terbesar dari tujuan membaca buku. Tanpa ada alasan yang riil dari tujuan
membaca buku, maka kita juga agak kesusahan untuk memulai terbiasa dan dekat
dengan buku.
Begitu pula dalam memulai kebiasaan membaca,
kita harus punya tokoh yang berperan besar dalam menggerakan maupun memotivasi
kita untuk senantiasa belajar. Tanpa itu, agak susah. Karena manusia punya
kecendrungan untuk mengikuti seseorang yang mereka anggap sebagai sosok
berpengaruh bagi mereka, bisa dari tokoh-tokoh pemikir atau kalau terlalu jauh
bisa dnegan dari orang-orang terdekat kita yang memang telah menjadikan buku
sebagai bagian dari kesehariannya.
Perjumpaan
dengan tokoh besar ataupun tidak, tetap memiliki kesadaran dari dalam diri
memiliki peran penting dlaam diri seorang juga. Saya menyadari, karena aktivitas
membaca adalah hal yang sifatnya kebiasaan. Ia harus dipraktikkan dan
orang-orang yang membaca ialah orang yang tak hanya menyuruh orang lain membaca
tetapi juga mencontohkan aktivitas membaca itu sendiri.
Pun
begitu memaknai membaca juga harus dibarengi dengan niat. Niat apa yang diinginkan
dari membaca itu. Karena niat itulah yang akan berpengaruh pada diri kita. saya
berpikir kalau kata Coach adji, membaca maupun kebiasaan baik yang
dilakukan haruslah bermuara pada membangun kedekatan diri dengan Tuhan. Membaca
buku bukan hanya sekedar sok-sokan. Merasa diri yang paling tahu daripada orang
lain. Inilah yang harus kita waspadai. Karena hakekat berpengetahuan ialah menjadikan
pengetahuan sebgai ikhtiar mendidik diri dan melindungi diri sendiri sebagaimana
ungkapan Imam Ali bin Abi Thalib yang menegaskan pentingnya pengetahuan, sebab adanya
pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang, maka akan melindungi diri mereka
sendiri.
Begitu
pula membaca buku sejalan dengan perintah Al-Qu’ran dalam ayat yang pertama
kali turun yakni iqra bismilahiski kalha. Bacalah atas nama tuhanmu yang telah
meniptkaanmu. Bahkan, orang-orang yang berilmu diangkat derajatnya satu tingkat
lebih tinggi daripada orang-orang yang beriman. Maka pengethauan memiliki peran
penting dan urgen bagi manusia. maka merugilah ornag-orang yang membaca hanya
untuk mencerdaskan diri dari sisi intelektual belaka, dan memanfaatkan
kecerdasan itu sebagai kekuasaan untuk menguasai orang lain.[]
Wallahul
a’lam

.jpeg)

Komentar
Posting Komentar